Mudeng ra Mudeng

Cerita : Pengalaman

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 12 Mei 2013

……Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Saya termasuk yang mengiyakan ungkapan tersebut, namun tidak demikian dengan guru Matematika saya semasa SMA dulu, jangan heran, biar kata keren habis-habisan macam begini saya dulunya pernah SMA juga. Guru saya membantahnya, mengapa? Karena menurut beliau seorang guru yang ada di dalam sebuah pengalaman adalah guru yang mengajarkan muridnya “jatuh” terlebih dahulu untuk kemudian pandai dengan belajar dari keterjatuhan sebelumnya. Juga menurut beliau, seorang guru yang sejatinya adalah digugu dan ditiru tidak penah sedikitpun mengajarkan demikian tadi, untuk “jatuh” terlebih dahulu. Saya yang ketika itu masih bodoh dan walau sampai sekarang semakin bodoh saja tentu saja tidak tahu apa maksud dari pernyataan beliau. Seperti kebanyakan orang, yang saya lakukan hanyalah mengangguk-anggukan kepala sebagai pertanda bahwa saya sebenarnya tahu, padahal aslinya? Kamu yang sudah mengenal saya beribu-ribu tahun lamanya pasti tahulah bagaimana seorang saya ini. Itu saya lakukan karena saya melihat teman-teman saya yang lain sepertinya begitu mencerna pernyataan guru saya dan pandangan mereka begitu dalam pada sosok beliau yang sedang bertutur di depan kelas. Pandangan itu masih saya ingat dengan jelas, seperti pandangan kagum kala melihat seorang Tom Cruise tersedak ubi bakar yang kemudian tersenyum sumringah hingga memperlihatkan bercak hitam sisa kulit ubi bakar yang hangus di sela-sela giginya. Bagi saya yang hobinya diberi hadiah mobil mewah warna putih dengan plat sesuai nama demikian itu adalah biasa saja, namun menurut teman-teman saya hal itu terlihat keren sekali, mengagumkan kata mereka.

 ……Menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia 1 miyar kata yang kemarin lalu saya sibak-sibakkan lembarannya, arti dari pengalaman adalah apa yang pernah dialami. Setiap orang punya pengalaman, tidak terkeculi bagi kamu yang karang giginya tak layak jual dan juga bagi saya yang…, ah, sudahlah. Sejumput apa yang pernah saya alami adalah ketika saya bekerja sebagai tukang ketik di daerah Danau Toba sana. Saat menyandang profesi yang tidak main-main seperti itu, lumrah rasanya jika saya  berjumpa dengan orang yang berbeda-beda dengan jenis ketikan yang berbeda-beda pula. Mereka yang sering saya dapati adalah guru, wartawan koran lokal, pegawai kelurahan, siswa-siswi mulai dari SD sampai SMA dan ibu rumah tangga yang mencak-mencak sambil menjewer anaknya karena bukannya mengerjakan tugas rumah melainkan malah asyik bermain game online, oh ya, selain buka jasa pengeketikan di tempat saya kerja dulu juga ada game onlinenya, itu loh, permainan dalam baris (game online).

 ……Salah seorang yang cukup sering memberi ketikan adalah bapak pegawai kelurahan, jenis ketikannya biasa berupa surat-surat keterangan berbagai keperluan warga. Suatu siang selepas jam makan siang si bapak dengan baju linmas warna hijaunya dengan juga celana kedodorannya datang tergesa-gesa. Jika terburu-buru begitu, prediksi saya bisa jadi perut beliau sedang pusing atau mungkin kepala si bapak sedang mules atau mungkin juga tikusnya masih dalam penanganan proses persalinan.

 “Dek, tolong ketikkan ini, bikin cepet ya, soalnya lurahnya udah mau pergi rapat ke kantor camat” oh, ternyata ketiga prediksi saya salah.

Saya yang masih sibuk mengerjakan yang lain berucap “Iya, pak, letakin aja di situ, entar saya ketikin”

“Aduh, yang ini duluan aja deh dikerjai, cuma selembar aja kok. Biar cepet bapak bantuin baca”

……Saya jadi kasihan kala melihat raut wajah si bapak yang lebarnya sama dengan wajah saya, wajah yang mampu dibuat menjadi 12 kavlingan rumah. Cuma selembar dan itupun akan dibacakan, pastilah tidak akan menghabiskan waktu yang lama, pikir saya. Akhirnya saya ambil posisi untuk mengetik dan si bapak pun ambil posisi duduk di sebelah saya untuk mendiktekan. Setting-setting halaman, dan terjadilah pengalaman itu.

 “Buat yang begini ya”

Saya hanya mengangguk, haduuh…ambune jek, jengkol lebaran tahun kapan ini baru disantap sekarang, batin saya.

 Si bapak mulai mendikte, “Kabupaten Simalungun Kecamat…”

“Pak, pak, gak usah dibacain deh, mari, biar saya baca sendiri aja” tanpa berpikir panjang saya langsung menyela, dari pada saya pingsan sampai 2 bulan akhirnya saya mengambil keputusan untuk membaca sendiri naskahnya.

“Udah gak apa-apa, biar cepet, bapak buru-buru ini” si bapak berbicara menghadap saya. Aroma yang semerbak itu seolah bilang begini “Ane tadi makan siang pake sayur jengkol abis dua baskom gede, nih!, ente rasakan aromanya, mantap kali kan?”.  Rasanya kurang sopan jika menyatakan langsung betapa nganunya aroma yang saya hirup, kemudian saya sempatkan untuk melirik naskahnya, syukurlah ternyata cuma sedikit.

 “Bapak lanjut ya, Kecamatan bla..bla..bla..”

……Tidak begitu lama akhirnya selesai juga, saya yang sebisa mungkin menahan nafas untuk tidak menghirup aroma itu akhirnya terbebas juga. Ketimbang gas air mata, saya yakin bahwa aroma nafas si bapak lebih ampuh digunakan untuk membubarkan demonstran. Namun, rupanya tidak selesai sampai di situ.

 “Bapak baca dulu ya hasil ketikannya, mana tau ada yang salah huruf atau ada kata-katanya kurang tepat” selesai si bapak berucap demikian, seketika di atas kepala saya banyak peralatan dapur berterbangan, pusing.

“Silahkan, pak”

“Kabupaten Simalungun Kecamatan bla..bla..bla..” ebuset! Ternyata si bapak tidak membacanya dalam hati, kontan saja saya lari menjauh dengan berpura-pura mengerjakan yang lain.

Kemudian, “Ok, print, ini uangnya ya”

……Saya berikan hasil printnya dan si bapak pergi dengan meninggalkan semerbak aroma jengkol yang masih bergulung-gulung gak karuan, di sudut sana saya melihat sebatalion nyamuk pada muntah-muntah berceceran.  Dalam hati saya berucap, awas ya! jika ada kesempatan saya pasti akan membalas.

 ……Hingga pada satu ketika kesempatan itu ada, siang itu giliran saya yang makan dengan sayur jengkol yang sungguh nikmat tiada terkira. Kali ini si bapak pegawai kelurahan mengenakan seragam coklat muda masih dengan celana kedodoranya, namun datang dengan tidak terburu-buru.

 “Dek, tolong ketikkan ini ya”

“Marih, pakh, sinih” berucap saya menghadap si bapak. Saya melihat ekspresi wajah si bapak ketika mendapat serangan mendadak ternyata biasa saja, sama seperti ekspresi tiang listrik ketika tubuhnya ditempelin skiter-stiker caleg, datar. Si bapak sama sekali tidak refleks menutup hidung atau beranjak menjauhi saya.

 Ketak-ketik-ketak-ketik, selesai.

 “Pakh, sebelumh dih printh sayah bacahkanh duluh yahhh” ampuun.., mencium aroma nafas saya sendiri saja membuat saya ingin menyumpalkan sandal ke mulut saya. Dan wajah si bapak masih seperti tadi, datar.

“Ya sudah dibacain, sekalian saya lihat apa susunan kalimatnya udah bener atau belum, lagi pula sayang kertasnya kalau bolak-balik salah” kata si bapak

Kesempatan nih, sebelum diprint kali ini saya yang membacakan hasil ketikannya, “Surath Pernyahtaanh, sahyah yangh bertandah tanganh dih bawah inih bla..bla..bla..”

“Okeh, pakh? Adah yangh kurangh? Udah bisah kitah printh?” saya lirik wajah si bapak, gila, masih datar!, gatot! Ini sungguh gagal total!.

“Oke, print”

……Ya, sampai selesai saya membacakan dengan tambahan huruf HAH di tiap ujung kata tetap tidak membuat si bapak berekspresi risih atau apa. Pantas saja jika kemarin lalu beliau tidak merasa bersalah, hawong dengan aroma nafas saya yang bujubunengkudakayangbuayanyusruk baunya tak tertolong begitu masih bisa biasa-biasa saja. Saya coba lirik lagi, kali ini tertuju pada hidung si bapak, saya coba mencari-cari dimana sebenarnya tulisan made in chinanya bersembunyi dan saya tidak menemukannya. Kegagalan menyertai saya dan kekekian juga tak terbalaskan. Saya akui ternyata si bapak adalah lawan yang cukup tangguh dan sulit untuk dipatahkan.

……Seperti apa kata kamus tadi, pengalaman adalah apa yang pernah dialami, dan cerita di atas tadi adalah pengalaman saya tentang aroma jengkol yang tentunya sudah dipermak sana sini. Terlepas pengalaman itu sebagai guru atau bukan, penting atau tidak, yang jelas apa yang bisa kita ceritakan adalah apa yang pernah kita alami, karena selain kematian, omong kosong namanya jika kita bercerita tentang apa yang belum pernah kita alami.

 *

*

*

Tulisan ini untuk ikutan Hari Jengkol ketiga, yang saya sendiri tidak tahu gunanya untuk apa :P

Ongkos

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 7 Mei 2013

…..Tidak semua orang punya kendaraan pribadi untuk mendukung aktifitasnya, semisal pesawat pribadi, kereta api pribadi, cobek pribadi atau apapun itu yang pribadi-pribadi. Saya adalah salah satu orang yang tidak berpunya tadi. Untuk itu saya giat mengkhayal mendapat hadiah tak terduga-duga, berharap kejatuhan mercedes barang sebiji. Jangan khawatir, saya janji jika seandainya saya mendapatkan sebiji mercedes dan kebetulan melihat kamu sedang berjalan, dengan legowo saya akan menciprati kamu dengan comberan yang ada di pinggir jalan. Gak dink, kalau belum apa-apa niatnya sudah jelek, bagaimana mau dapat mercedes?. Ganti deh, berdoa saja semoga saya mendapat sebuah pesawat tempur pribadi, biar saya bumi hanguskan rumah kamu beserta jamban-jambannya, heleh. Tentang saya yang tak berpunya tadi, maka jadilah seorang saya yang menggantungkan kebul asap periuk dari kehadiran angdes. Sebagai alat transportasi darat, di daerah saya angdes cukup memberikan andil besar.

……Yang sudah bertahun-tahun naik angdes untuk pergi-pulang kerja sudah hafal betul dan rata-rata mengenal siapa supirnya. Menurut pengakuan mandor yang mengatur angdes di terminal, untuk trayek daerah saya ada sekitar 52 biji angdes yang melayani. Untuk angdes nomor berapa supirnya yang mana saya sendiri tak pernah menghafalnya, hawong kuping ini saja kalau tak lengket sudah pasti bakal lupa tertinggal dimana, konon lagi mengingat angdes beserta supirnya?. Kebut-kebutan, asap rokok dan sempit-sempitan merupakan menu tambahan dalam berangdes ria. Namun, terlepas dari semua itu, taukah kamu bahwa ternyata ongkos angdes di daerah saya boleh dikata cukup murah. Zaman bebek minum bensin seperti sekarang ini apasih yang masih murah? Rasanya segala kebutuhan mulai dari pangan hingga kebutuhan eksispun semakin mahal saja. Bayangkan, dalam waktu tempuh 40 menit saya yang duduk imut di angdes cuma dikenakan biaya tiga ribu perak saja! Murahnya kurang ajar banget, bukan?. Terlebih lagi bagi mereka yang memakai seragam sekolah, ongkosnya bisa lebih murah, cukup membayar dua ribu perak, iya, cukup dua ribu perak saja!. Hari gini dua ribu perak bisa dapat apa coba? Sebenarnya bisa-bisa saja dua ribu perak dapat nasi sebungkus berlaukkan ayam goreng, tapi setelah makan pasti ada tambahannya, tambahannya apa? Bisa jadi tambahannya berupa wajah menjadi rata karena tempongan wajan atau mata menjadi lumat karena diulek. Melihat para pelajar membayar ongkos dengan begitu murah tak lantas terbesit di benak saya untuk memakai seragam serupa. Lagi pula jikapun saya menyamar dengan memakai seragam sekolah, supir angdes akan dengan cepat dapat mengetahuinya, hawong muka sudah pada lumutan dimana-mana begini.

……Walaupun sudah berongkos murah begitu, sepertinya tidak semua penumpang mensyukurinya. Kadang kala masih ada juga penumpang yang membayar dengan ongkos sekenanya plus repetan-repeten bak rapper baru menelan burung betet hidup-hidup. Seringnya adalah ibu-ibu yang mungkin baru turun gunung. Ongkos angdes yang sekarang dibanding-bandingkan dengan ongkos angdes 10 tahun lalu, ingin lebih murah. Jika kebetulan satu angdes dengan yang model begitu sempat terpikir oleh saya “ini sebenarnya orang atau hasil kawin silang antara gergaji mesin sama radio rusak sih? Cerewet, sadis, pelit dan gak punya hati, lengkap, baiknya digonikan saja trus ditimbang di tukang loak”. Padahal kalau membaca stiker yang kadang tertempel di depan pintu angdes suka bikin nyesek, tulisannya begini “mohon bayar ongkos sesuai tarif, kami perlu setoran dan makan anak istri”, duh!. Memang manusia, lain kepala lain pula isinya.

…..Buat kamu yang ingin menikmati ongkos naik angdes murah dengan waktu tempuh yang cukup lama, mari, silahkan berkunjung ke daerah saya. Dengan biaya 30ribu rupiah dijamin kenyang bolak-balik sebanyak 5 kali dan itu sudah cukup membikin kamu makin jelek. Tambahan lagi, jangan suka mengebiri hak orang lain, gak keren. Lagi pula, sampai jungkir balik bagaimanapun dunia tetap gak akan jadi milik kita *uhuk!.

Seragam

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 28 April 2013

……Di tempat kerja suatu ketika pada siang hari yang panasnya malu-malu merpati jinak-jinak kucing

Teman 1 : Eh, beli seragam yuk, biar nampak kompak gitu

Teman 2 : Hayuk-hayuk, kebetulan kemaren kan di sana ada diskon tuh

Saya : Cantik juga rencananya, ntar ente beli yang warna biru, trus ente beli yang warna hijau, dan ane sendiri beli yang warna merah, gimana?

Teman 1 & temen 2 : Giyaah…itu sih namanya gak seragam, boneng!

Temen 1 : Jadi kapan nih rencana belinya?

Teman 2 : Gimana kalau gajian depan?

Saya : Siph, ane setuju dah, entar kalau seragamnya udah ada, jangan lupa, ente makenya ari Senin, trus ente hari Selasa, nha, ane entar makenya ari Rebo, cakep dah

Temen1 & temen 2 : Darimana datangnya seragam kalau makenya beda-beda ari, dodong?!

……Dalam satu ruangan kami cuma bertiga saja dan semuanya adalah perempuan. Termasuk saya di dalamnya yang ternyata masih perempuan dari dahulu sampai sekarang ini. Kami bertiga masih dalam keadaan yang cantiknya kebangsatan, eh, kebangetan dink masih mulus dan belum ada yang penyok dari apapun yang dimiliki, dari kalimat tadi jika kamu benar punya nyali dan kebal terhadap wabah muntaber, silahkan mainkan sendiri imajinasi kamu. Kapan lalu kami pernah punya rencana untuk membeli seragam kerja supaya kelihatan kalau kami bertiga adalah anak kembar yang tidak sebapak, tidak seibu, tidak pula setetangga, namun kembar rejeki, dalam artian kembar tempat kerja dimana menukar butiran-butiran keringat sebesar biji durian dengan semangkok bakso Wak Kum. Selain supaya ingin dianggap sebagai anak kembar yang gak ada identik-identiknya, kami juga ingin terlihat kompak dan klop di mata siapa saja yang melihat kami ketika berseragam nanti. Sejatinya kami bertiga memang sudah klop dari dalam, kalau bercerita sudah saling nyambung satu sama lain, belum pernah dalam percakapan kami ada yang Jaka Sembung bawa baskom, nha, agar kompaknya lebih kelihatan dari luar maka tercetuslah ide membeli seragam tersebut. Sebenarnya rencana itu sendiri berawal dari rasa iri setelah kami melihat teman-teman kerja di ruangan sebelah yang memakai seragam putih bersih, keren, bak bakingpowder, begitu pikir kami. Omong punya omong maka terjadilah percakapan di atas itu. Saya bukannya ogah-ogahan, hanya ingin menggoda teman-teman yang lain saja.

 ……Kami belum menentukan model dan warna yang bagaimana nantinya yang akan menjadi seragam kami. Awalnya saya ingin melontarkan usul untuk mencontoh seragam milik pramugari supaya terlihat berkelas. Namun sebelum usul itu keluar dari mulut saya yang lebarnya dua kali lapangan bola ini langsung saya urungkan. Bukan mengapa, saya khawatir jika benar usul tersebut terealisasi nantinya akan mencoreng citra kami di hadapan khalayak ramai dan agar kami juga tidak terlihat terlalu memaksakan diri. Tidak lucu sekali jika nanti orang-orang terkekeh karena melihat kami berseragam laiknya pramugari namun wajah lebih mirip kenek angkot. Saya juga punya usul lain, namun sebagai pekerja – maaf saya agak sedikit sombong – yang berada di ruang ber-AC dan pegawai kontrak yang sewaktu-waktu bisa didepak tak mungkinlah usul saya untuk berseragam seperti hantu Indonesia meniru seragam pocong atau tuyul dapat langsung diterima, maka untuk model dan warna akan diputuskan pada sidang yang berikutnya. Entah kapan sidang lanjutan itu akan digelar kembali.

 ……Lalu, sekarang ini sudahkah kami berseragam?. Sampai saat postingan ini muncul ke permukaan, sekitar tiga minggu yang lalu ketika rencana itu dimuntahkan dengan mantapnya, dengan semangat menggila yang mampu menendang bahkan meninju siapa saja yang menolaknya serta juga sudah melewati masa gajian yang rencananya akan menyisihkan sebagian penghasilan, ternyata seragam yang dimimpi-mimpikan belum juga terbeli. Wacana hanya tinggal wacana, yang pada akhirnya hilang dihembus oleh angin buangan yang entah milik siapa. Memang agaknya memakai seragam bagi kami hanyalah seperti sebuah angan-angan penjual cendol dingin di musim hujan, mengharap pembeli yang sungguh jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh sekali dari kata mungkin. Padahal bisa jadi sayalah orang yang merasa sangat senang jika nanti seragam itu ada dan berwujud, karena bagi saya sebuah seragam adalah merupakan alat kesetaraan. Dijamin dengan berseragam kelak bakal tak akan terlihat kalau sebenarnya seorang saya ini sungguh keren tak tertanggungkan lagi.

Sehat

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 21 April 2013

……Jika ada seseorang yang menawarkan uang dua milyar dalam karung beras untuk menukar sakit giginya plus kurapan di sekujur tubuh yang sudah menahun dan gak sembuh-sembuh dengan kesehatanmu, sudikah kamu menukarnya?. Kamu yang matanya ada tujuh dan ijo semua pastilah langsung mengangguk-angguk sambil mengeluarkan liur dan mengiyakan tawaran tersebut. Beda dengan saya, kalau seandainya yang ditawari orang tersebut adalah saya, tentu saya akan menolaknya mentah-mentah tanpa berfikir lagi berapa hasil dari panjang kali lebar. Pengecualian jika orang tersebut menawarkan dengan harga dua milyar ditambah seribu lima ratus perak, bisa jadi saya akan berpikir ulang, cari seribu lima ratus perak itu susah tauk!. Ngomongin soal sehat, saya setuju dengan perkataan bahwa sehat adalah berkah, saya juga setuju bila ada yang bilang sehat adalah harta sesungguhnya, yang saya tidak setuju jika ada yang berucap dengan bibir memblenya kalau sehat adalah sejenis gorengan, kalau dengar yang begitu tangan saya langsung gatal pengen ngejepit itu bibir memblenya pakai penjepit baterai aki trus disambungin ke listrik, dikira sehat itu nama lain dari bakwan apah?!.

……Kita sering kali alpa untuk berucap syukur atau berterimakasih kepada Pemberi Hidup atas kesehatan yang selama ini nempel pada kita, iya deh bukan kita, tapi saya. Padahal banyak sekali di luar sana yang setiap harinya harus minum obat untuk menahan sakit, atau yang setiap minggunya butuh penanganan medis untuk bisa lagi mengangkat kepala, sedangkan saya? Haduuuuh….kadang saya ini memang benar-benar tidak tau berterimakasih sekali deh, jadi gemes sama diri sendiri dan kalau sudah begitu bawaannya jadi pengen nabok kamu keras-keras pakai sandal jepit. Lagi pula jelas sekali kalau nikmat dari sehat itu jelas tiada banding, dan agaknya om-om kejepit resleting juga tau. Saya contohkan, jelas lebih nikmat makan nasi hangat berlauk ikan asin goreng ketika sehat ketimbang makan nasi berlauk kambing hidup, bukan, berlauk kambing guling saat sakit, benar bukan?. Selain itu, pikiran yang jernih datangnya pastilah dari raga yang sehat. Hla kalau saya? Berraga sehat saja pikiran saya masih sebutek air comberan di pinggir jalan, konon lagi kalau sakit? Entahlah…., beda dengan kamu, beda dengan kamu yang selalu konsisten, kamu sih mau sehat ataupun sakit selalu tidak pernah berpikir, kamu kan sejenis panci-pancian, gak dink bercanda, jangan marah gitu ah, gak marah aja kamu nakutin apalagi kalau marah? Itu kebo bisa pada pipis di celana ntar.

……Ada berbagai cara untuk membuat tubuh tetap sehat, diantaranya dengan cara, ah, kamu cari tau sendiri deh. Yang mesti dicamkan adalah sudah diberi raga lengkap dan diisi dengan jiwa yang sehat, tugas kita haruslah menjaganya, gak lucu donk masa hansip kelurahan harus juga turut campur menjaga kesehatan kamu. Kalau memang sesuatu hal, entah itu makanan atau kegiatan atau apapun itu yang kita tau nantinya bakal membuat raga kita sakit sebaiknya jangan lagi dilakukan atau jangan lagi dimakan. Kita yang punya raga, kita sendiri yang tau harus bagaimana menjaganya.  Hari gini gak tau harus bagaimana menjaga kesehatan? Ke laut aja gih! Kuras tuh laut ampe bersih!. Hari gini kan informasi sudah mudah kita dapat, tinggal ketik, enter, byaaar! Dalam hitungan jari ular sejuta milyar informasi bisa langsung kamu dapat.

……Ya sudah, yuk mari kita cari tau. Nha, trus, kenapa jidat kamu berkerut dan hidung kamu ngembang gitu sih? Merasa ada yang aneh pada diri saya? Sungguh, sekarang ini saya tidak sedang sakit kok. Nih liat, paling cuma koyo cabe doank yang pada berserak nempel dimana-mana.

Pejwan

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 13 April 2013
Kali-kali bolehlah mejeng pejwan :cool:

Kali-kali bolehlah mejeng pejwan :cool:

…….Saya agak heran ketika masuk ke dasbor blog saya ini, ternyata satu dari sekian ratus juta ribu tulisan gak bejus saya yakni yang berjudul “istilah” menjadi tulisan yang paling banyak dilihat, ya walau dengan pencarian yang tidak begitu fantastis. Tapi sumpah demi sayur gosong di kuali yang lupa diangkat, bukan saya yang bolak-balik ngeklik itu tulisan. Oleh hal dimakan api penasaran saya mulai coba cari tau mengapa tulisan itu banyak dilihat. Saya coba dengan memasukkan kata “istilah” ke mesin pencari google, ternyata tidak, dengan kata itu blog saya ini entah masuk di halaman yang keberapa, mungkin di halaman ke sejuta berapa gitu atau bisa jadi tidak terdeteksi sama sekali batang hidungnya. Tak patah hati, saya coba lagi dengan mengetikkan kata “istilah adalah”, dan sodara-sodara, dan…..dengan serta merta saya menemukan keajaiban dunia yang ke seratus juta ribu nongol di sana. Dari gambar dan judul di atas itu kamu pasti sudah bisa tau atau setidaknya bisa menebak apa yang saya maksud. Betul, ternyata pencarian menggunakan kata tadi blog kurang ajar ini masuk pejwan!. Entahlah mimpi apa tetangga saya semalam hingga bisa demikian kerennya saya ini. Hal begini untuk warung di depan rumah yang selalu pejwan dan berada paling atas dengan pencarian “kinanthi terlahir kembali” sih sudah masuk yang lumrah, ibarat kata bak nyikat kamar mandi sambil nyetir truck, biasa. Namun bagi saya, namun bagi saya yang kamu taulah, kerennya tiada tertanggung ini berada di pejwan merupakan sesuatu pencapaian yang wah tiadah terkirah, rasanya seperti makan nasi putih hangat pake kecap sama kerupuk plus minum teh manis dua empang!, wah!.

……Sejumput kalimat baik dan benar yang saya boleh copas dari KBBI bisa nyabet pejwan, sungguh kurang ajar saya ini. Melihat itu saya dibuat tersenyum-senyum sendiri oleh fenomena yang sangat fenomenal ini, bak dapat undian berhadiah softek bekas, lucu. Selain itu, kalau boleh bilang sebenarnya saya ini merasa miris dengan temuan ini. Mengapa?. Ah, kamu jangan sok pura-pura gak tau begitu, sebagai simpatisan yang selalu berada di garda paling depan yang rela membela saya hingga tarikan uang tabungan terakhir tentu taulah. Bukan mengapa, karena hanya kalimat copasan itulah yang bisa saya beri tunjuk, selebihnya? Sebaiknya kamu baca sendiri deh kalau ada minat, saya sih ogah, tapi kalau boleh jujur lebih baik gak usah dibaca, saya khawatir kamu nanti jadi diare gara-gara ngebaca itu. Sekian untuk hari ini, buat kamu yang sudah mampir ke sana dan berharap mendapat apa yang kamu cari namun ternyata malah kecewa enem belas yang didapat, saya mohon maaf ya…^^

Bros

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 6 April 2013

……Ngomongin soal jilbab dan pernak-perniknya, di angdes saya sering dibuat terkesima dengan…, bukan, bukan dengan punggung bang sopir, melainkan dengan perempuan-perempuan yang begitu mantap membentuk jilbabnya sedemikian rupa sehingga terlihat lebih gaya. Iya saya tau, berjilbab adalah kewajiban bagi setiap muslimah bukan sekedar untuk gaya-gayaan, saya gak komen tentang bagaimana berjilbab yang baik dan benar ah, saya sendiri masih jauh dari kata benar dalam berjilbab. Balik lagi soal keterkesimaan, yang saya perhatikan sepertinya jilbab yang mereka kenakan lebih dari satu, misal, yang dilipat ke kiri warna biru, yang di dalam warna putih, sementara yang dilipat ke kanan warna hitam. Kadang sempat pula terfikir oleh saya sebenarnya berapa lama waktu yang dihabiskan di depan cermin untuk membentuk jilbab seperti itu? Gak lucu banget donk, masa pakai jilbab butuh waktu seminggu sebelum hari H, rewangan kenduri kale. Ah ya, bisa jadi karena mereka sudah terbiasa, bukankah ala bisa karena biasa? Trus, sekarang ini tutorialnya juga sudah banyak beredar baik dalam bentuk gambar maupun video yang semakin membuat mudah untuk terus tampil dengan berbagai gaya di arena pertandingan. Saya sendiri tak terbesit seupil pun keinginan saya untuk mencobanya, yang saya takutkan jika saya menirunya dengan lilit sana, lilit sini, lipat sana, lipat sini, maka, tarra…jadi deh leher saya tercekik, atau, lilit sana, lilit sini, lipat sana, lipat sini, tarra…jadi deh mandi pun berjilbab karena saya gak bisa melepasnya saking ribetnya. Lagian saya ini penganut aliran emoh ribet dan emoh rugi. Menganut dua aliran tersebut maka jadilah saya yang berjilbab dengan ala kadarnya, pas-pasan buat makan. Biar kata bergaya pas-pasan buat makan gak apa-apa deh, yang penting gak sampai ngutang di warung sebelah. Dan karena saya juga emoh rugi, benda di bawah ini ada kaitannya dengan gaya berjilbab saya kala berada di tempat kerja.

Pasti taulah ini benda apaan

Jelas-jelas ini penjepit kertas, yang bilang ini kapak siapa?!

……Gambar benda apakah itu? Hmm…saya rasa jika nenek-nenek pakai bikini yang berenang di empang saja tau, apalagi kamu, yang, mmm…, maaf, apalagi kamu yang…, yang segepok lemak bergelambir di perut! sudah pasti tau donk benda apa itu. Yaps, gambar di atas adalah sebuah penjepit kertas, bahasa ATKnya (Alat Tulis Kutang Kantor) saya tidak tau. Selain kapak dan golok, penjepit kertas sungguh berguna bagi saya, gak dink, emang saya tukang tambal ban apah!, masa pakai kapak dan golok segala. Maksud saya tadi, selain lampu, meja, kursi, kertas, pena, pelubang kertas, binder, penghapus, pensil, stypo, paperfastener, selanjutnya penjepit kertas adalah termasuk yang vital bagi saya. Saking vitalnya, rasanya jika tidak ada benda tersebut saya bisa dibuat berhenti bernafas selama sedetik suntuk, bayangkan kawan, sedetik suntuk!. Sebenarnya apa sih guna penjepit kertas itu? Jiah! Kalau ditanya begitu, nenek-nenek pakai bikini yang habis berenang di empang dan sekarang lagi nunggu angkot juga tau apa gunanya, apalagi kamu, ya kan? Apalagi kamu yang, aduh…, maaf jadi gak enak hati ngetiknya, apalagi kamu yang, maaf sekali lagi ya, apalagi kamu, yang segerombol jerawat batu di lubang hidung! Pasti tau donk apa guna itu penjepit kertas. Lagian kamu kan sudah belasan tahun makan uang spp, paham betullah gunanya buat apaan, cuma sebegitu doank juga.

 ……Di tangan kamu yang seorang the right thing in the right place, maksudnya seorang yang meletakkan benda yang tepat di tempat yang tepat, eh ya, itu tulisan bahasa Inggrisnya kalau bersalahan mohon dimaklumi saja, secara saya hidupnya emang lama di botol dan kebetulan tetanggaan sama eyang buyut kamu. Lanjut, di tangan kamu yang seorang seperti saya sebutkan tadi, benda tersebut pastilah menjalani hidup sesuai dengan kodratnya yakni berguna untuk menjepit kertas-kertas, tak ada lain, pasti. Namun, taukah kamu? Di tangan seorang saya yang the right thing in the sakarepe place, maksudnya seorang yang amburadul ra nggenah-nggenah, benda itu bisa mempunyai fungsi yang lumayan mampu menekan pengeluaran saya. Sungguh-sungguh bisa menekan pengeluaran saya, silahkan lompat ke jurang kalau kamu tidak percaya. Bermanfaat untuk apakah penjepit kertas itu? Kita hitung sampai seratus lima puluh ribu ya, mulai! Satu, dua, gak dink, kelamaan, langsung saja, tarra….

Sengaja wajah saya tidak saya tampilkan, takut kamu pada jatuh cinta

Sengaja wajah saya tidak saya tampilkan, takutnya nanti kamu jatuh cinta

…..Maka jadilah penjepit jilbab yang berguna untuk menggantikan bros, lumayan menekan pengeluaran, bukan? Kalau secara estetika atau keindahan jelas jauh sekali dari kata indah. Kalau diibaratkan jauhnya itu mungkin kira-kira dari tempat kamu duduk sekarang sampai ke abang jualan bandrek di perempatan planet Pluto sana. Saya rasa mungkin hanya kakek-kakek yang seangkot sama nenek-nenek pake bikini saja yang bilang itu indah. Namun demikian, demi rekening saya yang gak pernah gendut saya berani ngomong kalau itu cukup nyaman digunakan. Iya juga sih, mungkin karena pada dasarnya saya ini amburadul dan tidak rapi, makanya terasa nyaman-nyaman saja, padahal boleh jadi orang di sekitar saya merasa risih atau sampai merasa ingin ngejambak karena melihatnya. Tak mengapalah, hawong yang saya temui paling cuma temen-temen satu kerjaan doank, sudah pada paham benar saya ini bagaimana. Tapi suatu ketika salah seorang teman melihat saya selalu memakai penjepit kertas untuk menjepit jilbab pernah bertanya mengapa gak pake bros saja? Saya yang kamu tau ini dengan kerennya menjawabnya begini “emoh rugi dan emoh ribet”. Tampak? Bisa kamu hitung sendiri bahwa nilai estetika saya benar-benar rendah, saran saya ke kamu agar jangan sampai deh meniru saya, cukup saya saja yang punya nilai estetika di bawah rata-rata, ocey?

Separagraf

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 29 Maret 2013

……Mencari kesenangan adalah merupakan kodrat alamiah manusia. Dulu, sewaktu masih menggemaskan sekaligus menyebalkan, kesenangan itu bisa kita peroleh dari benda-benda yang  biasa disebut dengan mainan. Sudah taulah kita, umumnya mainan itu berbentuk boneka maupun gergaji mesin, bukan, maksud saya mobil-mobilan. Ketika itu, jika sehari ada 24 jam maka 27 jam mampu kita habiskan melulu dengan benda-benda tersebut (3 jam lagi boleh ngutang dari warung sebelah). Andai orang tua tidak sepelit paman gober, kita yang dititipkan pada keluarga berada pastinya punya lebih dari satu mainan, boleh jadi untuk boneka saja bisa sampai berbagai bentuk dan jenis. Dan jika kita dititipkan pada keluarga yang bisa dikata 6S (sangat sangat sangat sangat sederhana sekali), untuk memperoleh kesenangan yang sama bisa dengan menggunakan kain sarung untuk membuat sendiri boneka berbentuk kelinci sebagai pengganti boneka asli (saya yang keren ini sudah lupa cara ngebuatnya). Itu dulu, sekarang setelah orang sebaya saya atau yang usianya diatas saya yang bisa dikata telah dewasa tentunya lain lagi. Mencari kesenangannya masih, cuma jelas saja dalam bentuk mainan yang berbeda. Yang dulunya gemar bermain boneka mungkin saja berganti dengan gemar memoles alat kosmetika yang seketika mampu merubah wajah bak artis ibukota baru keluar dari jamban, yang dulunya suka main mobil-mobilan mungkin pula berganti dengan doyan main perempuan, bisa jadi toh?. Sekian dan terima kasih.

Kemasukan

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 17 Maret 2013

……Sampai setua dan sekeren sekarang ini saya belum pernah yang namanya kemasukan jin, apalagi kemasukan kulkas, dih! amit-amit dah. Mungkin itu jin pada mikir dua kali untuk masukin atau ngerasukin saya, gak ada untungnya soale. Gimana mau untung coba? Yang pertama, seandainya kalau itu jin ngerasukin saya terus ngajak untuk teriak-teriak, jelas, suara saya yang cempreng banget kayak kaleng kerupuk butut ini gak akan mendukung, yang ada entar orang-orang bukannya pada mikir kalau saya lagi kerasukan tapi dikiranya malah lagi kejepit jendela. Ketidak untungan yang kedua, kalau sendainya itu jin ngerasukin saya terus ngajak untuk menangis histeris, duh, wajah saya itu fals dalam kondisi dan situasi apapun, antara senyum, nangis histeris, ngakak, ampe ngempet semuanya sama saja, datar-datar dan rata-rata saja, orang jelas akan sukar ngebedain antara saya sedang kerasukan jin atau lagi ngempet nahan pipis. Dan yang ketiga, seandainya saya kerasukan, dan itu jin ngajak diem saja, kan ada tuh orang kerasukan yang diam saja, makan diam saja, mbaca juga diam dan tidur pun diam saja, nah kalau begitu saya orangnya memang pendiam, dijamin gak bakal ngomong kalau gak ngomong sumpeh deh (saya yakin untuk bagian yang ini 2 juta silentreader pada gak percaya semua). Nha, dari ketiga ketidak untungan tadi jelas banget itu jin gak bakal bisa sempurna kalau lagi ngerasukin saya, orang gak pada mikir kalau dia ada di badan saya, rugi besar donk itu jin gak bisa tebar pesona ke kita para manusia. Dari yang saya baca, seseorang itu bisa kerasukan karena pikirannya kosong dan ada juga yang bilang karena jiwa dan raganya sedang lemah. Dan syukurnya, pikiran saya sangat jarang sekali kosong, selalu isi dengan nominal-nominal hutang yang harus saya lunasi, juga syukur sekali karena jiwa dan raga saya seringnya dalam keadaan mantap dan prima. Angkot aja bisa lewat, apalagi cuma sejumput jin? (ditulis sambil komat-kamit dalam keadaan was-was, moga-moga jinnya pada buta huruf, kalau sampai ngebaca bisa gawat saya ini, bisa-bisa masukin jin satu kampung entar)

 ……Soal masuk-kemasukan, saya ingin ngebacrit yang gak penting tentang saya yang sering banget kemasukan angin. Mungkin karena saya pergi kerja terlalu pagi dimana ayam pun belum sempat membuka lebar muncungnya untuk berkokok (jangan percaya yang ini lebay) dan pulang terlalu larut malam dinama hanya terdengar suara jangkrik dan desahan-desahan yang tak tau dari arah mana (yang ini juga sama lebaynya) maka itu angin dengan mudahnya masuk ke diri saya, yang, aduh, sungguh keren ini. Kamu juga pasti pernah merasakan masuk angin juga, bukan? Badan rasanya gak nyaman, bawaannya ngantuk mulu, terus perut juga terasa kembung dan agak membesar berasa hamil 7 hari (kamu kan sejenis pengerat yang cepat melahirkan makanya saya ambil contoh hamil 7 hari). Banyak sekali cara untuk ngilangin masuk angin, yang paling termasyhur dan cespleng adalah kerokan. Saya sendiri belum pernah dikerokin, adakah yang minat ngerokin? Tapi jangan pake cangkul ya… ;) (kedip-kedip njijiki).  Gak deh, saya emang gak minat untuk dikerokin, ngeri kayaknya liat punggung pada merah gitu pasti juga rasanya pedih banget. Saya kalau masuk angin yang sudah kira-kira gak bisa ditoleransi lagi, misal bikin badan terasa berat dan bikin muntah-muntah, lalu perut pun terasa sesak biasanya langsung diblonyoi (pasti pada gak tau artinya kan? rassakan!)  iya, langsung diblonyoi sama bawang merah plus minyak tanah. Emang bikin badan bau minyak tanah tapi sungguh cespleng, bisa dicoba deh. Bawang merahnya gak perlu nyampe sekilo dua kilo cukup tiga butir saja, terus minyak tanahnya juga gak perlu nyampe satu literan, cukup untuk membasahi itu bawang merah saja. Caranya gampang, tinggal kupas dan pipihkan itu bawang merah, terus disiram dengan minyak tanah hingga basah, tinggal diusapkan di punggung, perut, juga ke jari-jari kaki. Nha, jika sudah merata tinggal nyalain korek deh, dibakar sekalian biar ilang total masuk anginnya. Gak dink bercanda, gak pake acara nyalain korek, usapkan saja rata ke tubuh sambil dipijat-pijat, karena kamu bau minyak tanah mudah-mudahan itu angin gak betah terus minggat deh, sungguh bisa dicoba. Aduh, bercanda lagi deh, bukan, bukan karena kamu bau minyak tanah maka itu angin pada minggat, mungkin karena badan kamu menjadi hangat maka itu angin pada ngibrit.

……Sedari tadi saya ngebacrit, kamu sudah tau belum kalau masuk angin sebenarnya merupakan kumpulan gejala yang terjadi akibat gabungan kelelahan fisik, terlambat makan, dan stres pikiran. Karena gabungan ketiga hal itu, terjadilah pembentukan gas berlebihan di lambung dan usus. Kemudian timbul perasaan penuh di usus lalu mulas, diikuti mual dan muntah. Ah, jangan begitu, jangan pernah beranggapan saya ini cerdas bukan buatan, ini juga saya boleh copas dari mbak wiwik kok. Jika ingin tau banyak tentang masuk angin, sila kamu tanya ke mbak wiwik. Ada baiknya saya akhiri, sudah sebegini saja ya, saya sudah capek ngebacritnya dan kamu pun pasti juga sudah eneq dan mual ngebacanya.

Minus

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 10 Maret 2013

……Pada hakikatnya kita manusia adalah sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Jika muncul di benak kamu apa itu makhluk individu dan makhluk sosial, mintakan saja pencerahan kepada yang terhormat mbah google sang mesin pencari tiada banding, bukan apa, takutnya nanti kalau saya yang menjawab malah akan terpampang nyata terlihat jelas menggelegar membahana di garis khatulistiwa melewati batas jagad raya bahwa saya benar-benar pandir tak terpatahkan lagi. Garis besarnya, sebagai manusia tidak bisa dipungkiri selain memiliki hak atas diri kita sendiri, kita juga membutuhkan manusia lain untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Gak lucu donk kalau seumpama lagi pegel-pegel dan pengen dipijat tapi yang mijat punggung kamu malah seekor sapi perah, atau gak asik juga donk kalau mau curhat-curhatan tapi yang ndengerin cuma tembok atau meja doank, kalau bagi saya sih jelas gak banget, tapi mungkin bisa jadi berbeda bagi kamu yang, maaf, sejenis sol sepatu.

……Akhir-akhir ini baik di media cetak maupun elektronik sering kali kita baca atau kita lihat dan dengar berita-berita tentang kerusuhan yang berkecamuk dimana-mana, tak pandang wilayah baik itu di kota-kota besar padat penduduk maupun di daerah tempat jin ngumpetin upil sekalipun. Belum lagi reda kerusuhan antar pelajar ini, di sana sudah ada pertikaian antar kelompok, di kampung yang sana lagi penduduknya saling serang, hayaaah…terlihat sekarang itu orang semakin mudahnya tersulut atau terpancing emosinya. Dibumbui seumprit saja dengan begitu mudahnya merusak dan membakar kendaraan milik orang, rumah milik orang, sampai instansi pemerintahan dan layanan umum dan bahkan memutuskan hak orang lain untuk mengecap hidup seribu tahun lagi. Suka heran deh, mengapa tidak kendaraan atau rumahnya sendiri saja yang dibakar untuk ngungkapin kekecewaan atau ketidaksukaannya atau sekali-kali acara bakar-membakarnya diganti dengan acara belajar memandikan atau menyolatkan jenazah kek, biar lebih inget bakal mati juga dan dimintai tanggung jawab. Apa yang bisa kita tangkap akan kejadian-kejadian yang semacam itu? Menurut saya, adalah makin minusnya rasa tenggang rasa yang dipunyai oleh manusia sekarang ini. Entah salahnya dimana, entah karna pengaruh ekonomi, bisa jadi toh? Entah juga karna pengaruh makanan yang kita makan sekarang (yang ini saya boleh ngawur), entah itu karna pengaruh era teknologi yang begitu mudahnya menerima informasi yang kadang gak pake disaring, entahlah.

……Kadang perseteruan itu muncul karna hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala sama dingin antara yang bertikai saja dan dengan tidak melibatkan banyak orang dengan persenjataan lengkap. Sekarang ini sangat lain dengan zaman es lilin masih 25 perak, jika dahulu orang-orang pada bersenjata lengkap membawa sabit, pacul, golok dan benda tajam lainnya, sudah bisa ditebak pasti sedang melakukan kegiatan gotong-royong, namun sekarang berbeda, persepsi baru yang muncul adalah pasti sedang terjadi pertikaian antar kelompok atau antar kampung. Yang membuat nyesek adalah hanya karna ego segelintir orang yang bisa diitung pake jari ayam broiler, satu kampung bisa jadi kena getahnya, seperti yang saya kemukakan tadi, kehilangan harta benda bahkan nyawa. Untuk itu, agaknya perlu mencerdaskan masyarakat agar jangan langsung menelan bulat-bulat informasi yang bertujuan untuk menyulut kerusuhan. Memberikan pengarahan agar mengenali terlebih dahulu juga menelusuri apakah informasi itu hanya sekedar hoax atau tidak. Jika ternyata informasi tersebut benar, nha, negara kitakan negara hukum, adukan saja ke pihak yang berwajib (tinggal ngomong doank sih emang gampang, kenyataannya kalau sedang dalam masalah begitu pasti juga bakal diem doank :mrgreen: ). Pemerintah juga sepertinya perlu menempatkan personel intelegennya di tiap-tiap daerah untuk tanggap dan sigap menangkap pemancing handal biang kerusuhan sebelum kerusuhan itu pecah dan melebar. Jiah! Gak keren donk, masak bukan jalan daerah atau badan kamu yang makin kian melebar, ini malah kerusuhan yang sungguh sama sekali gak penting.

……Seperti yang sudah saya kemukakan di atas tadi, bahwa kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain, untuk itu juga dibutuhkan toleransi atau tenggang rasa satu sama lain, mending tinggal di kendi gih kalau gak sudi bertoleransi. Karna jelas tidak ada yang menguntungkan dari sebuah pertikaian, seperti slogan-slogan yang sering dikoar-koarkan itu bahwa, damai itu indah, kawan.

Mabuk

Posted in Tak Berkategori by nDuk on 17 Februari 2013

*

Lahir – Balita – Remaja – Dewasa – Tua – Mati

Lahir – Balita – Remaja – Dewasa – Mati

Lahir – Balita – Remaja – Mati

Lahir – Balita – Mati

Lahir – Mati

*

Kematian. Sungguh benar kawan, tidak bisa lari kita padanya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.