Mudeng ra Mudeng

Akal-akalan

Ditulis dalam Tak terkategori oleh nDuk pada 16 Oktober 2011

……… Baca judulnya aja dah bikin perasaan ente gak enak ya? makanya “gak usah fake frasaan deh… “. Di dalam tanda kutip dua itu adalah kalimat ajaib yang boleh nyomot dari sini. Eh, pada tau gak? kalo di sono emang kalimat-kalimatnya ajaib-ajaib semua, buruan deh ente ke sono sebelum kehabisan. Perlu bukti tentang keampuhan kalimat ajaib itu? Coba deh ente comot, trus ente print, trus ente templokin di mana ente suka. Dijamin deh entar kalo ada yang ngebaca pasti bakal bilang “wuiih ajaib bener nih kalimat, dapet dari mana sih? Sumpeh ! gara-gara baca kalimat ajaib ini ane jadi semangat macul sawah, semangat bayar utang, semangat membangun bangsa dan negara, semangat nyari bini :oops: ”. Bener banget, ini adalah kalimat penambah semangat, dan tentunya semangat-semangat yang lain gak bisa ane sebutin semuanya di sini, bisa-bisa ini postingan isinya semangat semua. Ini perpaduan hiperbola & satire, Nyai :P

……… Ane lanjutin lagi ya, eh, sebelum ane lanjutin, mmmh…. ente-ente pada kangen gak sama ane? Akh, iya-iya gak usalah diucapkan, bulan dan bintang juga udah tau kok, apalagi matahari, apalagi embun pagi, apalagi ya…? apalagi ya…? Ya pokoknya itulah, semua benda baik yang bernyawa, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia (ente masuk yang disini) maupun semua benda yang tidak bernyawa, sandal jepit, karet gelang, karung beras, sutil, panci, dandang, dan lain sebagainya (tiga terakhir ane inget bener, kreditannya blum lunas soale) semua benda yang ada di muka bumi ini pada tau kalo ente-ente kangen ama ane. Yaps, karna ane emang pantas untuk dikangenin (stop ! cukuup! ngomong aja gak haus, mBro? kapan ceritanyaa?)

……… Baiklah, karena waktu terus bergerak, ane mulai aja nih cerita, lebih pasnya siyh karangan gak mutu. Bersiaplah…, pegang kursi ente kuat-kuat (heleh!)

……… Almari.., eh, alkisah dink… Alkisah di sebuah desa yang mempunyai dua buah gunung, dengan jalan setapak dan sawah di kiri kanan jalan (jaman ingus masih ditelen belepotan pasti kalo suruh gambar modelnya macem begini, ngaku hayoo..). Di Desa tersebut hidup rukunlah 3.258.1475.258 kepala keluarga (yang nyensus pasti salah nih, masa kacang tanah ikut diitung?).

……… Pada suatu malam yang entah malam apa (ente kira-kira sendiri aja ya) ada sebanyak 20 kepala keluarga yang bermimpi aneh dengan mimpi yang sama, iya dengan mimpi yang sama! (ente gak kaget? gak asik ah). Mereka bermimpi bahwa pada malam ketiga setelah mereka memperoleh mimpi itu akan ada seorang perempuan yang menggendong bayinya tersesat di kebun yang berada di utara desa milik salah seorang warga. Mimpi aneh itu tidak langsung menggemparkan seluruh warga desa, karna terlalu sering warga-warga yang lain dengan jumlah lebih banyak dihinggapi mimpi yang gak kalah aneh. (“biasa aja kale, cuy”ucap pengetua desa).

……… Malam hari yang ditunggu pun akhirnya tiba, ber 3.258.1475.258 (gak lah kebanyakan) ber 50 (selebihnya pengen liat kali aja ada yang bening-bening) warga menyusuri kebun yang ada dalam mimpi. Dan ! Yah, mereka menemukan sesosok perempuan mengenaskan menggendong bayinya menangis terisak-isak. (lampu, lampu, tolong sorot yang di sebelah sini. Walah! itu sih pohon pisang, hush ! sorot yang lain, itu kan wak Mahmud yang lagi jongkok, ane hapal bener bentuknya (jongkok nyari cacing yeee… :P ))

……… Tanya boleh tanya, perempuan itu ternyata bernama Ngadimin (halah!), perempuan itu ternyata bernama Maemunah (Ma’e Lina, Ma’e Dinda, Ma’e Maya, dan Ma’e – Ma’e yang lainnya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, stop!, cukup!)

……… Oke, ane lanjut. Saat didapati oleh warga, Maemunah masih dalam keadaan bingung juga linglung (limbung dikit-dikit lah). Perempuan malang yang entah datang dari mana ini langsung saja dibawa warga ke SPBU terdekat (ente kira tabung gas?) warga membawanya ke aula desa. Beberapa warga yang bermurah hati memberinya makanan, minuman, buah-buahan, kaus, payung, ricecooker, TV berwarna 21 inci, Sepeda motor dan doorprize sebuah mobil! (nah tuh, ancur banget kan?). Warga yang penasaran menanyai Maemunah mengapa bisa sampai ke desa itu dan mengapa bisa sampai begini dan begitu.

……… Maemunah yang sudah mulai bisa menenangkan diri akhirnya bercerita bahwa ia adalah korban perampokan. (hiks, ambil tisu gih, critanya sedih benjeet inih). Maemunah menceritakan bahwa saat ia sedang hamil tua, ada serentengan (ente kira pete?!) ada segerombolon perampok yang menghadang di tengah jalan kala ia berjalan pulang menuju rumahnya. Perampok-perampok itu (kalo Maemunah gak salah ingat, perampoknya ada 2 truck! wiii..), melihat perut Maemunah yang membumbung tinggi (halah) melihat perut Maemunah yang membuncit, perampok-perampok itu mengira Maemunah menyembunyikan emas, intan, berlian dan uang milyaran rupiah di balik baju yang dikenakannya. Namun ternyata perampok-perampok itu salah besar, apa yang mereka kira emas, intan, berlian dan uang milyaran rupiah adalah sesosok bayi (ngarangnya lebay banget ya). Lalu, kemudian seterusnya, untuk menghilangkan jejak, gerombolan perampok-perampok itu membuang Maemunah dan bayinya ke desa dimana Maemunah berada sekarang, ya tentu saja, setelah sebelumnya membawa Maemunah ke rumah sakit untuk menyatukan kembali perut Maemunah yang mengaga lebar juga melunasi semua biaya perobatan serta biaya rawat inap selama sebulan setengah kurang dua hari (repot amir, Bang?).

……… Maemunah diterima baik di desa itu, terlebih oleh 20 warga yang sebelumnya memimpikannya, warga percaya bahwa anak Maemunah adalah orang yang nantinya mampu mengatasi penyakit masyarakat  :?: .

……… Tiba masa dimana Maemunah harus memberi nama bayinya. Mimpi aneh kembali terjadi, ke 20 warga yang sebelumnya memperoleh mimpi aneh kembali mendapatkan mimpi aneh yang sama binti serupa bin mirip plek!. Dalam mimpi itu tergambar sangat jelas bahwa anak Maemunah akan menjadi seorang tabib yang hebat!, yang mampu mengobati penyakit apapun, misalnya : yang diam bisa bicara! yang duduk berdiri! (hebate ngendi?). Dan melalui mimpi itu pula ke 20 warga tadi diharuskan memberi nama anak Maemunah yang berjenis kelamin laki-laki. Warga yang merasa mempunyai hak untuk ikut andil memberi nama mengadakan rapat guna mencari nama terbaik (keterlaluan nih warga, ane gak undang rapat!, ente diundang gak?). Berhubung ada 20 warga yang mendapatkan mimpi yang sama, akhirnya disepakatilah bahwa nama panggilan dari ke 20 warga tersebut yang nantinya dicantumkan menjadi nama anak Maemunah. Menghindari cekcok yang kurang penting dan untuk menghormati mereka-mereka yang lebih berumur, maka pemberian nama dimulai dari warga yang umurnya lebih tua.

……… Nama-nama dari ke 20 warga tersebut adalah sebagai berikut : (kaya jawab pertanyaan aja)

1. Amin

2. Siswoyo

3. Endi

4. Mamin

5. Isam

6. Kisrun

7. Beni

8. Asman

9. Jaidin

10. Imran

11. Nanang

12. Gimin

13. Arip

14. Nurlan

15. Tanto

16. Endro

17. Norman

18. Gino

19. Inan

20. Karmen

(Ini nama boleh dapet dari ngarang, nama bapak tetanga ente ada gak?)

……… Maka diadakanlah pesta besar-besaran untuk pemberian nama anak Maemunah, setiap warga dipungut sumbangan sebagai antisipasi, eh, sebagai partisipasi. Dan resmilah anak Maemunah bernama Amin Siswoyo Endi Mamin Isam Kisrun Beni Asman Jaidin Imran Nanang Gimin Arip Nurlan Tanto Endro Norman Gino Inan Karmen (Mana acakadut, puanjang lagi!, ini nama apa usus?)

……… Di desa tersebut, Maemunah dan anaknya hidup berkecukupan (jangan lagi tanya siapa Bapak itu anak, anggap saja Bapaknya adalah Bang Toyib, deal?) dan selama masa pertumbuhan tidak didapati satu masalah apapun pada sang anak, calon tabib hebat!.

……… Sudah hampir genap anak Maemunah berusia 5 tahun, saatnya memasukkannya ke taman kanak-kanak. Maemunah bingung, pusing, mual-mual juga gatal-gatal (halah!), Maemunah bingung saat akan mendaftarkan anaknya, kolom yang terdapat pada isian nama hanya ada 20 kolom sementara nama anak Maemunah uuamat suuangat puuanjang sekali, jelas tidak cukup!(mpok Nori juga tau kale). Sang guru menyarankan untuk memasukkan sebagian nama saja, sesampai mana nama itu cukup pada kolom yang tertera, jika nama anak Maemunah adalah Amin Siswoyo Endi Mamin Isam Kisrun Beni Asman Jaidin Imran Nanang Gimin Arip Nurlan Tanto Endro Norman Gino Inan Karmen (ente males kan mbacanya? Sama! Ane juga eneq ngetiknya) maka menjadi Amin Siswoyo Endi Mamin Isam Kisrun Beni Asman Jaidin Imran Nanang Gimin Arip Nurlan Tanto Endro Norman Gino Inan Karmen (20 karakter termasuk spasi).

……… Karmen yang merupakan salah seorang warga yang ikut andil dalam pemberian nama mengetahui akan hal itu, nama Karmen terletak di akhir nama anak Maemunah, jelas saja Karmen tidak terima jika namanya tidak dicantumkan dalam nama calon tabib hebat!.

………  Maka diadakanlah rapat untuk yang kedua kalinya. (buset dah, rapat lagi dan ane tetep gak diundang! Ente tau posisi ane apa? ane pengetua desa cuy.. bener-bener dah). Rapat kali ini cukup pelik dan menuai banyak intrik, untung saja tawuran-tawuran antar warga yang hampir saja pecah bisa dikendalikan oleh pengetua desa (“nyante aja kale, cuy”). Akhirnya rapat yang telah menghabiskan waktu hingga 7 hari 7 malam ini (rapat ato ndangdutan neng?) diputuskanlah nama anak tersebut diambil dari huruf depan masing-masing nama warga yang ikut menyumbangkan nama. Ditandatangani di atas kertas bermaterai, jadilah nama anak Maemunah Amin Siswoyo Endi Mamin Isam Kisrun Beni Asman Jaidin Imran Nanang Gimin Arip Nurlan Tanto Endro Norma Gino Inan Karmen

HAH ?! APPPPAAAH.. !! (“biasa aja kale, cuy..”)

……… Yah, nama anak Maemunah calon tabib hebat! itu kini menjadi asemikbajingatengik (sengaja ane buat huruf kecil, etapi, kalo ada tanda serunya di ujung pasti makin siph ASEMIKBAJINGANTENGIK!)

……… Apa boleh buat? Nasi sudah menjadi lontong, kesepakatan telah ditandatangani bersama. (bukan apa-apa sayang materainya kalo ampe ini kesepakatan diubah lagi, 20 biji, cuy.. dikali enam ribu perak udah berapa coba?)

……… Maemunah tak lantas diam begitu saja, sembari menjinjing rok dan sandal jepitnya, Maemunah berlari terbirit-birit menuju rumah pengetua desa (kebelet ente, Mun?)

……… Setibanya di rumah pengetua desa, Maemunah langsung menceritakan segala kejadian yang menimpanya mulai dari a sampai zet. Pengetua desa yang memang terkenal dengan kata-kata bijaknya mencoba menenangkan hati Maemunah. “Sudahlah Mun, apalah arti sebuah nama” ucap pengetua desa sembari mengelus kepala Maemunah yang menangis sesunggukan di pangkuan pengetua desa. (lha?kok malah kayak sungkeman?). Maemunah hanya diam “ya, apalah arti sebuah nama, sebuah cobek baru punya arti, apalagi bikin getok ente! ” batin Maemunah. Mau tidak mau, suka tidak suka, Maemunah pada akhirnya menerima juga keputusan itu.

……… Tragis……..

(tragis karna lama gak posting, toh, masih saja posting yang begini gak pentingnya, maaf ye..)

……… Yaps, habis sudah cerita gak berkualitas dari ane, sekian dan terima kasih sudah repot-repot membaca.

……… Appah?! gak masuk akal? Baca lagi no judulnya ! :P

11 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. LJ berkata, pada 16 Oktober 2011 pada 20:57

    fantesan seharian kagak nongol di muka bumi,
    lagi bikin prosa panjang ternyata.

    :ngakakbahagia:

    ***
    L U N A S ya !
    Demi Mak seorang, apasih yang enggak? ;)
    ehem, panjang bener, nDuk sendiri ampe mual mbacanya

  2. LJ berkata, pada 16 Oktober 2011 pada 21:01

    pada akhirnya anaknya ngadimin dikasih nama Sutil..?
    hmm, cantik juga..

    **Sutilawati..

    ***
    Mak lebih jago ternyata *ngarangnya ! :P

  3. LJ berkata, pada 16 Oktober 2011 pada 21:10

    ternyata memang benar,
    hafdet tak ferlu fake ferasaan…
    ***
    yaps, venar yang memang venar venar, hafdet sih fake ngetik bukan fake ferasaan begitu, Mak?

  4. LJ berkata, pada 16 Oktober 2011 pada 21:13

    itu ketua desa ngapain ngelus palanya maemunah..
    emangnya jin botol..?

    absurd.. sungguh tidak masuk akal.

    Appah?! gak masuk akal? Baca lagi no judulnya !
    ***
    di elus kali aja nemu kutu, trus pasti bakal dikasih ke eMak
    *nDuk tebelin kalimat terakhirnya :P

  5. monda berkata, pada 16 Oktober 2011 pada 21:18

    Ra mudeng , pa kabar nduk
    ***
    nDuk kabar baik, Ibu :) , Ibu juga baik2 sahaja kan?
    Ramudeng? ini postingan Ibu baca? semoga saja tidak, takut ibu kenapa2 setelah membaca postingan ini :D

  6. mandor berkata, pada 17 Oktober 2011 pada 09:08

    Coba kalau saya ikut rapat dalam pemberian nama, pasti bagus dan semua orang akan setuju
    ***
    He em coba saja Mandor ikutan, pasti namanya jadi keren bisa-bisa nama aselinya Roy Pamungkas,
    dipanggilnya Dulkolaks :P

  7. Asop berkata, pada 17 Oktober 2011 pada 13:37

    Ini prosa?? Beneran ini prosa?? 8O
    ***
    ikutan :shock:
    .
    .
    .
    .
    etapi, emang prosa apaan sih, Mas?

  8. nDa berkata, pada 17 Oktober 2011 pada 16:15

    hmmm…
    ***
    La ngopo? ra seneng po? :evil:

  9. marsudiyanto berkata, pada 17 Oktober 2011 pada 17:01

    Ini kalau Oyen tau bisa dijadikan acuan buat nama bayinya…
    ***
    Semoga saja Ibu Guru tidak tau :berdoa dimulai:

  10. Hakangnyah berkata, pada 17 Oktober 2011 pada 17:38

    Nama yang bagus sekali…!!!
    ***
    Baru tau sih? kemana aja… :cool:

    • Hakangnyah berkata, pada 17 Oktober 2011 pada 17:43

      nomer urut 18 namanya sama dengan cantrik di kantor om Kytaine… :P
      ***
      hembeer…
      cemburu ya, nama Hakangnya gak dimasukin :P


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.