Rindu
.
.
.
19 menit kemudian….
……. “Ya, coba kamu buat sebuah kalimat dengan menggunakan kata rindu”. Ibu guru menunjuk salah seorang muridnya yang duduk di bangku terdepan. Seorang siswi berkacamata yang cantik juga aduhai, siswi ini selalu berada di barisan paling depan dalam hal apapun, termasuk bangku yang sekarang didudukinya yang hanya berjarak 30 cm saja (tyigha fulwuh cyentyimyethyer sajjah) dari papan tulis. Tak pelak lagi, segala macam rasa kapur tulis pernah dicicipinya.
……. “Rindu itu kamu”. Jawab siswi tersebut dengan cepat, singkat, padat, lancar, aman dan terkendali tanpa hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan baik yang berasal dalam maupun luar, dari atas maupun bawah, dari kiri maupun kanan. Cerdas.
……. Layaknya melihat kuntilanak yang tersedak biji buah durian, kontan saja Ibu guru tercengang bukan buatan. Namun hal itu hanya terjadi beberapa detik saja, kemudian Ibu guru tersenyum sembari melihat pada pin nama yang dikenakannya. Tertera “Rindu Alsintor” singkatan dari Rindu Alat Mesin dan Kantor.
……. “Sebuah kalimat yang cukup bagus, sekarang giliran kamu” selanjutnya Ibu guru menunjuk seorang murid yang duduk di bangku paling belakang, murid laki-laki yang mempunyai tanda tahi lalat di pipi sebelah kanan, namun terkadang tanpa persetujuan orang tua maupun wali dipindahkannya tahi lalat itu di pipi sebelah kiri, tergantung pesanan. Dengan dalih agar ongkos atau biaya sekolah yang dikenakan bisa lebih murah, murid ini lebih memilih duduk di lantai ketimbang duduk di bangku yang telah disediakan. Di kelas, murid ini paling sering menguap dengan lebar-lebar hingga hampir-hampir papan tulis, meja guru, keranjang sampah dan benda-benda lain yang berada di depannya ikut tersedot ke dalam mulut.
……. “Rinduku luruh di bawah pohon jambu…
” diucapkan dengan meringis dan menggaruk-garuk tembok kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lebay.
……. “Kalimat yang tidak kalah bagus, boleh” sambung Ibu guru dengan memainkan kapak pena yang di pegangnya.
……. “Kamu, coba kamu” kali ini Ibu guru menunjuk seorang murid yang duduk di bangku barisan tengah, seorang siswa yang cukup pintar diantara puluhan ratus ribu juta jiwa siswa-siswa pintar yang lainnya. Seorang siswa terbaik yang selalu mendapat pujian, kritik dan saran, pesan maupun kesan dari setiap guru yang masuk ke dalam kelas. Beragam penghargaan telah diraihnya, baik penghargaan yang bersifat unjuk gigi tentang ilmu pengetahuan hingga penghargaan yang memerlukan talenta yang tidak main-main yakni penghargaan sebagai penyanyi dangdut terbaik tingkat RT/RW. Selain pintar dalam hal ilmu pengetahuan dan berkesenian, siswa ini juga pandai bernegosiasi, sebuah pohon bisa tumbang jika dia yang merayunya. Keren.
……. “Rindu itu tak bertepi
” dijawabnya dengan penuh barang belanjaan wibawa
……. “Bagus” kata Ibu guru singkat. “Nha…, sekarang sekarang giliran kamu” tunjuk Ibu guru ke arah murid yang tidak menjawab jika tidak ditanya, murid yang hanya diam saja jika tidak bicara.
……. “ng…….” sambil mimijat-mijat keningnya yang tidak seberapa mana, siswa tersebut tampak berfikir sangat keras. Lalu mulailah murid itu menjawab.
……. “Kata mereka, rindu yang dihasilkan lebah tak sebanding dengan manisnya cinta, tau kau?” jawabnya mantap
……. “Yang itu bukan rindu tapi madu, buat kalimat yang lain” kembali Ibu guru memerintah
……. “Dan jika delapan tahun adalah serindu, lebih dari itupun aku akan terus menantimu” jawabnya lagi kembali
……. “Haduh! yang itu sih windu, bukan rindu! buat yang baru!” Ibu guru mulai naik darah
……. “Karena adalah memang hatiku yang telah terjatuh, tidak perlu kau repot mengangkatnya dengan rindu” dengan semangat murid tersebut mencoba membuat kalimat baru dengan menggunakan kata rindu.
……. “Duh! itukan tandu, yang lain, yang lain, yang lain” perintah Ibu guru yang mulai terserang asma.
……. “Hingga kini masih ku pertanyakan, sesungguhnya apa yang ada pada dirimu? dengan bodoh aku bersedia berdiri dekat rindu listrik untuk menunggu detik-detik kedatanganmu” lagi siswa tersebut menjawab.
……. “Ampuun, itu sih gardu !! coba yang lain lagi !!” Ibu guru yang mulai sembelit berkata dengan nada lebih tinggi.
……. “Ya, hanya demi bisa mendengarkan suara rindu yang keluar dari mulutmu” untuk kesekian kali siswa tersebut terus mencoba.
……. “I-tu-kan mer-du.. co-ba bu-at ya-ng la-in…” Ibu guru yang mulai habis tenaga dengan suara yang tersisa kembali memerintah
……. “hhh…” siswa itu menarik nafas dengan berat.
……. “Ibu guru….. Kata mereka, madu yang dihasilkan lebah tak sebanding dengan manisnya cinta, tau kau? Dan jika delapan tahun adalah sewindu, lebih dari itupun aku akan terus menantimu, karna adalah memang hatiku yang telah terjatuh, tidak perlu kau repot mengangkatnya dengan tandu. Hingga kini masih ku pertanyakan, sesungguhnya apa yang ada pada dirimu? dengan bodoh aku bersedia berdiri dekat gardu listrik untuk menunggu detik-detik kedatanganmu. Ya, hanya demi bisa mendengarkan suara merdu yang keluar dari mulutmu. Kemudian ku bisikkan padamu kalau, aku rinduu….”
……. Namun sangat disayang sekali, kalimat panjang lebar dan tidak berguna yang diucapkan murid tersebut tidak sempat didengar oleh Ibu guru yang sudah tidak sadarkan diri sedari kemarin tadi.
.
.
.
*t a M a t*
aihh.. siapa itu namanya siswa terakhir..?
aku.. aku..,
haduuwwhhh..!
***
Kenafe ente, Nyi?
buk guru pura-pura pingsan tuh.
biar ditandu sampe ke gardu
***
ah, kerjaan ente menghada-hada saja !
Aih, bebeb….mwaaaaaaaaaahhh..
ituh ibu guru pingsan karena saking terharunya ya beb?
***
apa pulak!
bu guru pingsan ketiban pohon Randu…
***
paan sih?
bu guru merindu, pa guru menatap sendu.
***
ini lagi, paan sih?
pilih : pohon randu atau pohon mengkudu..?
***
maksudnya? apaan sih?
pilih tanaman perdu aja..

***
maunya apa sih?
Sumpah Pemuda…
<- kalo pake emo macem begini, anggap saja sedang kurang sajen
Berindu satu, Rindu Indonesia
***
Kepada eMak terkasih, Hakang tersayang, yaYuk tercintah & PanDuk tersayang juga, terimakasih atas kehadiran dan komen2nya, *menjura dalam2
Rindu itu Kamu,,,,,
kayak nya kenal itu kata..kata…..
*nyengir*